Infotaiment

Cekungan Migas Jadi Kekuatan Utama Geopark Bojonegoro Menuju UNESCO

aksesadim01
6437
×

Cekungan Migas Jadi Kekuatan Utama Geopark Bojonegoro Menuju UNESCO

Sebarkan artikel ini
IMG 20260619 WA0015

BOJONEGORO – Langkah Geopark Bojonegoro menuju pengakuan dunia terus dipersiapkan secara serius.

Menjelang proses evaluasi Aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp), berbagai aspek mulai dari pengelolaan situs, kualitas interpretasi hingga penguatan narasi kawasan terus dibenahi.

Sebagai bagian dari tahapan tersebut, digelar kegiatan kunjungan lapang pra validasi Geopark Bojonegoro pada Kamis (18/6/2026).

Kegiatan ini menjadi simulasi penilaian lapangan sekaligus sarana evaluasi kesiapan Geopark Bojonegoro sebelum menghadapi proses validasi menuju UNESCO Global Geopark.

Tim pendamping yang terlibat berasal dari Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Kegiatan diawali di Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro.

Di lokasi tersebut, rombongan meninjau berbagai fasilitas edukasi dan mendapatkan pemaparan mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, sejarah kehidupan, hingga informasi pendukung lain yang menjadi identitas Geopark Bojonegoro.

Selanjutnya, tim melakukan kunjungan ke sejumlah situs unggulan yang menjadi bagian penting dari kawasan geopark.

Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia, Rudy Suhendar, menilai Geopark Bojonegoro memiliki karakteristik yang kuat dan berbeda dibandingkan geopark lainnya di Indonesia.

Menurutnya, identitas sebagai kawasan cekungan minyak dan gas bumi harus lebih ditonjolkan sebagai kekuatan utama dalam narasi geopark.

“Bojonegoro memiliki keunikan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni sejarah dan karakter cekungan migas yang sangat kuat. Hal itu perlu menjadi benang merah dalam setiap penyampaian informasi kepada pengunjung maupun asesor UNESCO,” ujarnya.

Selain menyoroti aspek geologi, tim pendamping juga memberikan sejumlah masukan terkait penguatan alur cerita atau storytelling di setiap geosite.

Narasi yang dibangun diharapkan mampu menyajikan keterhubungan antar situs secara runtut sehingga memberikan pengalaman edukatif yang lebih utuh.

Sementara itu, Prof. Hanang Samodra dari BRIN menekankan pentingnya mengintegrasikan tiga unsur utama geopark, yakni geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity.

Menurutnya, ketiga elemen tersebut harus saling berkaitan dan disampaikan secara harmonis agar mampu menggambarkan nilai penting Geopark Bojonegoro secara menyeluruh.

“Geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal tidak boleh berdiri sendiri. Semua harus terhubung dalam satu narasi besar sehingga pengunjung dapat memahami kekayaan Geopark Bojonegoro secara utuh,” jelasnya.

Setelah dari Pusat Informasi Geologi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Biosite Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Kunjungan kemudian diteruskan ke Museum 13, Rumah Singgah Wonocolo, kawasan Teksas Wonocolo, hingga Formasi Wonocolo Hargomulyo.

Situs-situs tersebut menjadi bagian penting dari warisan geologi Bojonegoro, khususnya yang berkaitan dengan sejarah panjang industri minyak tradisional yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Di setiap lokasi, para pemandu melakukan simulasi presentasi seperti yang akan dilakukan saat asesor UNESCO melakukan penilaian lapangan.

Mereka menjelaskan nilai geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat setempat yang menjadi bagian dari kekayaan geopark.

Simulasi ini bertujuan mengasah kemampuan pemandu dalam menyampaikan informasi secara menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan standar penilaian internasional.

Kegiatan pra validasi tersebut menjadi momentum penting untuk mengukur sejauh mana kesiapan Geopark Bojonegoro menghadapi tahapan evaluasi menuju UNESCO Global Geopark.

Berbagai catatan dan rekomendasi dari tim pendamping diharapkan mampu memperkuat kualitas pengelolaan kawasan, meningkatkan kualitas interpretasi situs, serta mempertegas identitas Geopark Bojonegoro sebagai kawasan warisan geologi berbasis cekungan migas yang berpadu harmonis dengan kekayaan hayati dan budaya lokal.

Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Geopark Bojonegoro semakin optimistis melangkah menuju panggung internasional dan meraih pengakuan sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark dunia. (er)