Daerah

Geopark Bojonegoro Menuju UNESCO, Ini Catatan Penting dari Para Pakar

aksesadim01
8651
×

Geopark Bojonegoro Menuju UNESCO, Ini Catatan Penting dari Para Pakar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260622 WA0001

BOJONEGORO – Langkah Geopark Bojonegoro menuju pengakuan dunia semakin nyata.

Setelah melalui rangkaian kunjungan lapangan pra validasi aspiring UNESCO Global Geopark (aUGGp) pada 18–19 Juni 2026, optimisme untuk meraih status UNESCO Global Geopark (UGGp) kian menguat.

Kegiatan yang difasilitasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendampingan sekaligus penguatan kesiapan Geopark Bojonegoro sebelum menghadapi evaluasi resmi UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Juli 2026.

Pra validasi dilakukan untuk menilai kesiapan kawasan secara menyeluruh, mulai dari tata kelola geopark, upaya konservasi warisan geologi, pengembangan pendidikan masyarakat, hingga implementasi pembangunan ekonomi berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal.

Dalam kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Badan Pengelola Geopark Bojonegoro menerima kunjungan tim yang terdiri dari perwakilan kementerian dan lembaga, Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Selama dua hari, tim melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi unggulan yang menjadi wajah Geopark Bojonegoro.

Kawasan yang dikunjungi antara lain Pusat Informasi Geologi, Biosite Belimbing Ngringinrejo, Museum 13, Geosite Antiklin Kawengan, Museum Perminyakan Tradisional Wonocolo, Teksas Wonocolo, Formasi Wonocolo, Formasi Bulu di Desa Beji, Geosite Kedung Lantung, Sentra Batik Jono, Hutan Jati Gondang, Geosite Banyukuning, Negeri Atas Angin, hingga Geosite Kayangan Api.

Beragam lokasi tersebut dinilai mampu merepresentasikan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, budaya lokal, serta inovasi pemberdayaan masyarakat yang menjadi kekuatan utama Geopark Bojonegoro.

Kepala Bappeda Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menegaskan bahwa pra validasi menjadi momentum penting untuk memperoleh masukan dan evaluasi dari para pakar sebelum menghadapi penilaian resmi UNESCO.

Menurutnya, berbagai rekomendasi yang diberikan akan menjadi dasar perbaikan dan penguatan tata kelola kawasan, peningkatan kualitas interpretasi geosite, pengembangan ekonomi lokal berbasis geopark, hingga pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

“Ini merupakan tahapan yang sangat penting dalam perjalanan Geopark Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark. Masukan yang kami terima akan menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas kawasan,” ujarnya.

Helmy juga optimistis Geopark Bojonegoro mampu menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.

Sementara itu, Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Rudy Suhendar, menilai Geopark Bojonegoro memiliki peluang besar memperoleh pengakuan UNESCO.

Menurutnya, kawasan ini mempunyai karakter geologi yang unik dan didukung kekayaan budaya lokal serta partisipasi masyarakat yang kuat.

Namun demikian, Rudy mengingatkan masih ada pekerjaan rumah yang perlu diperkuat.

Salah satunya adalah membangun keterhubungan yang lebih kuat antara warisan geologi (geoheritage), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan warisan budaya (cultural heritage) dalam satu narasi besar yang mudah dipahami masyarakat maupun dunia internasional.

“UNESCO tidak hanya melihat keunikan geosit. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan tersebut mampu menjadi sarana edukasi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah UNESCO Global Geopark tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya geologi yang dimiliki.

Tata kelola yang baik, keterlibatan masyarakat, jejaring kemitraan yang kuat, serta kemampuan menciptakan manfaat ekonomi berkelanjutan juga menjadi faktor penentu dalam proses penilaian.

Seluruh masukan yang diperoleh selama pra validasi kini akan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan Badan Pengelola Geopark Bojonegoro untuk menyempurnakan berbagai aspek yang menjadi indikator penilaian UNESCO, mulai dari tata kelola, interpretasi kawasan, visibilitas geopark, hingga penguatan pemberdayaan masyarakat.

Kunjungan pra validasi ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Geopark Bojonegoro menuju panggung dunia.

Dengan semangat kolaborasi yang terus terbangun, Geopark Bojonegoro diharapkan mampu menjadi contoh kawasan yang berhasil mengintegrasikan konservasi alam, edukasi, pelestarian budaya, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

Komitmen tersebut sejalan dengan semangat yang terus diusung Geopark Bojonegoro, yakni menjaga warisan bumi sebagai sumber pengetahuan, identitas budaya, sekaligus penggerak pembangunan bagi generasi sekarang dan masa depan. (er)