Daerah

Dari Sampah ke Listrik, Gresik dan Lamongan Gaspol Wujudkan PSEL 2026

aksesadim01
8740
×

Dari Sampah ke Listrik, Gresik dan Lamongan Gaspol Wujudkan PSEL 2026

Sebarkan artikel ini
IMG 20260410 WA0011

GRESIK – Langkah konkret menuju pengelolaan sampah modern terus digencarkan, Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menerima kunjungan kerja Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ngipik, Selasa (7/4/2026).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antar daerah Gresik dan Lamongan dalam mengembangkan sistem pengolahan sampah berbasis Waste to Energy (WtE).

Kedua kepala daerah secara langsung meninjau berbagai teknologi pengolahan sampah yang telah diterapkan di TPA Ngipik, Gresik, termasuk metode landfill mining teknologi yang mampu mengurai timbunan sampah lama menjadi material yang lebih bermanfaat.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengaku terkesan dengan sistem pengelolaan sampah di Gresik yang dinilai sudah maju dan terintegrasi.

Ia melihat banyak hal yang bisa diadopsi untuk pengembangan pengelolaan sampah di wilayahnya.

“Pengelolaan sampah di Gresik sudah sangat modern. Kami mendapatkan banyak inspirasi, terutama dari teknologi landfill mining yang belum kami terapkan di Lamongan,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti inovasi lain seperti pengolahan RDF (Refuse Derived Fuel) hingga pemanfaatan limbah makanan menjadi pakan ternak, burung dan ikan.

Menurutnya, inovasi tersebut membuka peluang besar dalam menciptakan nilai tambah dari sampah.

Sebagai tindak lanjut, kedua daerah berencana menjalin kerja sama resmi melalui nota kesepahaman (MoU).

Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan kesiapan daerahnya untuk bersinergi dalam mendukung program nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Program ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dalam mempercepat penanganan sampah sekaligus mendorong energi baru terbarukan.

Kolaborasi ini juga melibatkan wilayah aglomerasi Surabaya Raya, termasuk Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo.

Nantinya, sampah yang telah diolah akan dikonversi menjadi energi listrik dan diserap oleh PLN.

“Potensi sampah dari Gresik mencapai sekitar 250 ton per hari, sementara Lamongan sekitar 100 ton per hari. Ini peluang besar untuk dikembangkan menjadi energi listrik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa langkah berikutnya adalah mencari titik lokasi strategis untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) bersama antara Gresik dan Lamongan.

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, menekankan pentingnya kolaborasi antar daerah dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Dia juga menyebut bahwa capaian pengelolaan sampah di Jawa Timur saat ini telah mencapai 52,7 persen, tertinggi di tingkat nasional.

Dengan sinergi lintas daerah ini, diharapkan pengelolaan sampah tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi melalui energi terbarukan.

Kolaborasi Gresik dan Lamongan pun menjadi langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (fs)