Nasional

Semangat Simbah Hasyim Warnai Penutupan Munas PBNU di Bangkalan

aksesadim01
6788
×

Semangat Simbah Hasyim Warnai Penutupan Munas PBNU di Bangkalan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260625 WA0017

BANGKALAN – Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, resmi berakhir dengan suasana penuh khidmat.

Mengusung tema “Sejuk Hikmah Simbah Hasyim Asy’ari”, forum strategis ini menjadi ruang konsolidasi bagi Nahdlatul Ulama untuk memperkuat persatuan umat, menjaga nilai Islam moderat, sekaligus merumuskan langkah menghadapi tantangan masa depan.

Berlangsung dalam nuansa kekeluargaan dan semangat musyawarah, Munas dan Konbes PBNU menghasilkan berbagai gagasan penting yang diharapkan mampu memperkuat kontribusi organisasi terhadap kehidupan umat, bangsa, dan negara.

Tokoh masyarakat sekaligus akademisi, Prof. Dr. H. Fernadya Sima Antasari, Lc., M.A., M.B.A., mengapresiasi suksesnya pelaksanaan agenda nasional tersebut.

Menurutnya, nilai-nilai perjuangan yang diwariskan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, tetap relevan menjadi pedoman dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.

Ia menilai, ajaran dan keteladanan Hasyim Asy’ari mengandung pesan penting tentang persatuan, dialog, serta pengutamaan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan tertentu.

“Hikmah yang diwariskan Simbah Hasyim Asy’ari mengajarkan pentingnya menjaga kebersamaan, memperkuat persaudaraan, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat,” ujarnya.

Prof. Fernadya juga menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama memiliki posisi strategis sebagai perekat kebangsaan sekaligus penjaga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Karena itu, berbagai keputusan dan rekomendasi yang lahir dari Munas dan Konbes PBNU diharapkan mampu memperkuat pelayanan kepada masyarakat secara lebih luas.

Menurutnya, fokus penguatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kesejahteraan masyarakat, hingga kontribusi aktif dalam pembangunan nasional harus terus menjadi prioritas gerakan NU ke depan.

“Penutupan Munas dan Konbes ini bukan akhir perjalanan, tetapi menjadi titik awal bagi ikhtiar bersama untuk menghadirkan masyarakat yang lebih maju, adil, sejahtera, dan berkeadaban. Dengan meneladani hikmah Simbah Hasyim Asy’ari, kita optimistis dapat terus menjaga kesejukan, memperkokoh persatuan, dan mendorong kemajuan Indonesia,” tambahnya.

Acara penutupan Munas dan Konbes PBNU di Bangkalan dihadiri para ulama, kiai, pengurus Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah, tokoh masyarakat, serta sejumlah elemen bangsa.

Kehadiran mereka menjadi simbol kuat komitmen bersama dalam menjaga persatuan nasional, memperkuat moderasi beragama, dan mengawal pembangunan Indonesia yang berpijak pada nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

Melalui forum ini, Nahdlatul Ulama kembali menegaskan perannya sebagai organisasi yang tidak hanya menjaga tradisi keislaman, tetapi juga aktif berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan zaman demi terwujudnya Indonesia yang harmonis, maju, dan berkelanjutan. (dpw)