Daerah

Keren, Emak-emak Semenkidul Sukosewu Bojonegoro Sulap Sampah Jadi Rupiah

aksesadim01
9833
×

Keren, Emak-emak Semenkidul Sukosewu Bojonegoro Sulap Sampah Jadi Rupiah

Sebarkan artikel ini
img 20260813 wa0012

BOJONEGORO – Sampah plastik yang selama ini kerap dianggap tidak berguna ternyata bisa berubah menjadi karya kreatif sekaligus membawa manfaat sosial.

Hal itu terlihat di Desa Semenkidul, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, melalui gerakan Arisan Sampah MAPAK (Emak-emak Berdampak).

Di rumah Insiyah, Ketua RT 07 sekaligus Koordinator Komunitas MAPAK Desa Semenkidul, beragam hasil kreativitas warga dipajang di teras rumah.

Galon bekas yang semula hanya menjadi barang terbuang disulap menjadi aneka bentuk hewan, mulai dari angsa, sapi, beruang, hingga kelinci.

Benda-benda tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pot tanaman.

Hasilnya, sampah yang sebelumnya memenuhi lingkungan justru berubah menjadi hiasan yang memiliki fungsi dan nilai tambah.

Gerakan itu tidak berhenti pada kegiatan membuat kerajinan. Warga juga aktif memilah, mengumpulkan, dan menjual sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Sebagian hasil penjualannya bahkan disisihkan untuk kegiatan sosial.

Insiyah mengatakan, Komunitas Arisan Sampah MAPAK mulai berdiri pada Mei 2025.

Awalnya, kegiatan tersebut berangkat dari kebiasaan warga yang secara rutin memilah sampah rumah tangga.

“Dulu sampah dipilah oleh para anggota yang ikut arisan sampah. Alhamdulillah, kita bisa bersedekah dari hasil penjualan sampah plastik,” kata Insiyah.

Seiring waktu, gerakan tersebut semakin berkembang. Dari semula hanya 16 anggota, kini jumlah warga yang bergabung telah mencapai sekitar 35 orang.

Setiap tanggal 13, anggota membawa sampah yang telah dikumpulkan ke lokasi pengelolaan untuk dipilah.

Sampah plastik yang masih dapat dimanfaatkan dipisahkan, kemudian didaur ulang atau dijual sesuai jenisnya.

Menurut Insiyah, dukungan dari pemerintah desa dan kecamatan turut memberikan energi positif bagi gerakan tersebut.

Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan juga terlihat saat warga melakukan aksi bersih-bersih, termasuk membersihkan sampah yang tersisa setelah kegiatan Car Free Day (CFD).

“Alhamdulillah, Pak Kades juga mendukung. Pak Camat juga peduli terhadap sampah yang berserakan di Semenkidul. Bu Camat ikut membantu memunguti sampah seusai CFD. Alhamdulillah, teman-teman tidak ada yang mengeluh,” tuturnya.

Keterlibatan masyarakat pun semakin luas. Insiyah menyebut sejumlah elemen warga, termasuk pimpinan Muslimat, ikut bergabung dalam gerakan pengelolaan sampah tersebut.

Bagi warga MAPAK, sampah bukan lagi sekadar persoalan yang harus segera dibuang.

Sampah dipandang sebagai sesuatu yang masih bisa dipilah, dimanfaatkan kembali, dan bahkan menghasilkan pemasukan.

“Daripada galon tidak terpakai, dibuat menjadi bentuk angsa. Bentuk hewan-hewan itu dibuat menjadi pot agar memiliki nilai tambah. Di sini, sampah plastik dipilah untuk menentukan mana yang masih bisa didaur ulang,” jelas Insiyah.

Gerakan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono.

Ia menilai MAPAK merupakan contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang layak dikembangkan dan ditiru di wilayah lain.

“Semoga makin banyak masyarakat yang meniru karena ini contoh yang bagus. Pengelolaan sampahnya sudah terstruktur. Ini juga merupakan bagian dari program Pokja II TP PKK Kabupaten,” ujarnya.

Cantika menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada kebiasaan dan kesadaran setiap orang.

Menurutnya, langkah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya merupakan bagian penting dari upaya menjaga kebersihan lingkungan.

“Perlu kesadaran kita untuk memasukkan sampah ke tempat sampah,” tegasnya.

Rumah Insiyah kini menjadi salah satu gambaran sederhana bagaimana gerakan peduli lingkungan dapat dimulai dari rumah.

Galon bekas, botol plastik, dan berbagai barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki fungsi.

Gerakan MAPAK memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Dari memilah sampah, warga mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil penjualannya, mereka dapat berbagi melalui sedekah.

Gerakan warga Desa Semenkidul itu sekaligus membuktikan bahwa ketika masyarakat bergerak bersama, sampah dapat berubah menjadi peluang.

Bukan hanya untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka ruang kreativitas, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat gotong royong. (Er)