Infotaiment

Tak Banyak Tahu, Bojonegoro Punya Rembesan Minyak Bumi Alami

aksesadim01
9741
×

Tak Banyak Tahu, Bojonegoro Punya Rembesan Minyak Bumi Alami

Sebarkan artikel ini
img 20260804 wa0049

BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro kembali menunjukkan kekayaan warisan geologi yang dimilikinya.

Salah satu destinasi yang menyimpan fenomena alam langka adalah Geosite (G-05) Kedung Lantung, sebuah kawasan dengan rembesan minyak bumi alami yang mengalir di Sungai Borik, Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro.

Berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Jalanan yang berkelok menjadi bagian dari petualangan sebelum pengunjung tiba di kawasan yang masih hijau dan alami.

Di pintu masuk, pengunjung akan menemukan papan informasi yang menjelaskan sejarah Geosite Kedung Lantung lengkap dengan sejumlah papan peringatan yang mengingatkan pentingnya menjaga kawasan warisan geologi tersebut.

Geosite Kedung Lantung bukan sekadar objek wisata alam. Kawasan ini menjadi bukti nyata perjalanan panjang terbentuknya sistem petroleum di Bojonegoro yang telah berlangsung jutaan tahun lalu.

Secara geologi, kawasan ini berada di Zona Kendeng, wilayah yang dahulu merupakan dasar laut dalam.

Aktivitas tektonik pada masa lampau membentuk rekahan pada lapisan batuan yang kemudian menjadi jalur keluarnya minyak bumi dari reservoir di bawah permukaan.

Karena massa jenis minyak lebih ringan dibanding air, minyak perlahan terdorong naik melalui celah-celah batuan hingga akhirnya muncul sebagai rembesan alami di permukaan Sungai Borik.

Sesampainya di lokasi utama, pengunjung harus menuruni jalur menuju aliran sungai untuk menyaksikan langsung fenomena tersebut.

Di atas permukaan air tampak lapisan minyak tipis yang memantulkan cahaya matahari hingga menghasilkan gradasi warna menyerupai pelangi.

Fenomena alam inilah yang menjadikan Kedung Lantung berbeda dari geosite lainnya di Bojonegoro.

Tak hanya memiliki nilai ilmiah, rembesan minyak bumi ini juga menyimpan nilai budaya yang masih dikenang masyarakat setempat.

Sejak dahulu, warga memanfaatkan minyak alami tersebut sebagai bahan penerangan tradisional.

Masyarakat Desa Drenges mengenalnya dengan sebutan Lintung.

Keunikan Kedung Lantung semakin menarik karena memiliki keterkaitan dengan Geosite Kayangan Api, yang berjarak sekitar 35 kilometer.

Keduanya sama-sama merupakan fenomena rembesan hidrokarbon alami.

Bedanya, Kedung Lantung memperlihatkan rembesan minyak bumi cair, sedangkan Kayangan Api merupakan rembesan gas bumi yang menyala secara alami di permukaan tanah.

Selain menyuguhkan wisata edukasi geologi, Desa Drenges juga menawarkan kekayaan hasil pertanian yang menjadi identitas masyarakat setempat.

Salah seorang anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, Nabila, menjelaskan bahwa kondisi tanah dan iklim di kawasan tersebut sangat cocok untuk budidaya jagung dan singkong.

“Hasil pertanian warga didominasi jagung dan singkong. Karena itu produk olahan seperti marning dan Balung Kuwuk menjadi makanan khas asli Desa Drenges,” jelasnya.

Keberadaan Geosite Kedung Lantung menjadi bukti bahwa Bojonegoro tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil migas, tetapi juga memiliki warisan geologi yang bernilai tinggi, baik dari sisi ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, hingga potensi wisata.

Pelestarian kawasan ini menjadi langkah penting agar kekayaan alam yang dimiliki Bojonegoro tetap terjaga dan dapat terus dinikmati sekaligus dipelajari oleh generasi mendatang. (Er)