BOJONEGORO – Upaya memperkuat ketahanan pangan dan menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro, pembangunan embung digencarkan di sejumlah wilayah untuk membantu petani memperoleh pasokan air, terutama saat memasuki musim kemarau.
Pembangunan embung ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung Bojonegoro sebagai daerah lumbung pangan.
Selain menampung air hujan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, keberadaan embung diharapkan membantu petani mempertahankan aktivitas bercocok tanam ketika curah hujan mulai berkurang.
Selama musim kemarau panjang, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri bagi sektor pertanian.
Kondisi tersebut membuat upaya penyediaan sumber air alternatif semakin penting agar lahan pertanian tetap produktif dan petani memiliki peluang melanjutkan musim tanam.
Kepala Bidang Air Baku dan Irigasi Dinas PU SDA Kabupaten Bojonegoro, Radityo Bismoko, ST., MT., menjelaskan bahwa pembangunan embung merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mendukung kebutuhan air pertanian, khususnya dalam menghadapi musim tanam kedua.
Menurut pria yang akrab disapa Radit tersebut, embung dirancang untuk menampung air ketika hujan turun.
Air yang tersimpan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan petani saat pasokan air mulai menipis.
“Kami memang telah melaksanakan pembangunan embung. Tujuannya untuk mendukung musim tanam kedua. Harapannya, ketika nanti turun hujan, air dapat tertampung di embung sehingga petani masih memiliki harapan mendapatkan pasokan air untuk menanam kembali,” jelas Radit, Senin (26/10/2026).
Radit menegaskan, pembangunan embung tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro.
Dengan adanya tampungan air, petani diharapkan memiliki alternatif sumber pengairan ketika musim kemarau berlangsung.
Langkah ini sekaligus menjadi respon atas kondisi kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air untuk lahan pertanian.
Pihaknya berharap fasilitas tersebut dapat membantu petani tetap produktif dan tidak sepenuhnya bergantung pada hujan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
“Kami melaksanakan pembangunan ini untuk mendukung petani agar dapat terus bertanam tanpa terlalu bergantung pada musim. Harapannya, petani tetap bisa bercocok tanam dengan dukungan ketersediaan air yang lebih baik,” tambahnya.
Pada tahun ini, pembangunan embung dilaksanakan di wilayah yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.
Wilayah yang menjadi sasaran pembangunan meliputi Kecamatan Dander, Purwosari, Kepohbaru dan Sugihwaras.
Khusus di Kecamatan Dander, salah satu lokasi pengerjaan berada di Desa Mojoranu.
Pembangunan di sejumlah wilayah tersebut diharapkan mampu memperluas ketersediaan tampungan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya petani di sekitar lokasi.
Selain mendukung kebutuhan irigasi pada musim kemarau, pembangunan embung juga menjadi bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air secara lebih optimal.
Ketika musim hujan tiba, air yang tertampung dapat menjadi cadangan untuk kebutuhan pertanian pada periode berikutnya.
Penampungan air juga berpotensi membantu mengendalikan limpasan air di sekitar lokasi, bergantung pada kapasitas embung, kondisi saluran dan karakteristik wilayah.
Meski demikian, penanganan banjir dan genangan tetap membutuhkan dukungan sistem drainase, saluran pembuangan, serta pengelolaan sungai yang memadai.
Karena itu, keberadaan embung menjadi salah satu bagian dari upaya pengelolaan air, bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi banjir.
Radit menyampaikan bahwa pembangunan embung tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Setelah pengerjaan rampung, fasilitas itu diharapkan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar lokasi.
“Kami menargetkan pembangunan embung ini dapat selesai pada akhir tahun ini. Nantinya, ketika sudah rampung, embung diharapkan bisa langsung dimanfaatkan oleh warga sekitar,” pungkasnya.
Melalui pembangunan infrastruktur sumber daya air ini, Pemkab Bojonegoro berharap kebutuhan air pertanian dapat semakin terjaga.
Ketersediaan air yang lebih baik diharapkan turut mendukung keberlanjutan musim tanam, menjaga produktivitas lahan dan memperkuat posisi Bojonegoro sebagai salah satu daerah penopang produksi pangan di Jawa Timur. (er)






