BOJONEGORO – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Hal itu diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Kebencanaan yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro di Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Selasa (28/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian TMMD ke-129 yang mengusung tema “Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa.”
Kegiatan tersebut diikuti perangkat desa, anggota Linmas hingga tokoh masyarakat.
Mereka dibekali pengetahuan dasar mengenai mitigasi bencana, langkah penyelamatan, serta pentingnya kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Kasubbag Umum dan Kepegawaian BPBD Kabupaten Bojonegoro, Ginuk Karniati, mewakili Kalaksa Heru Wicaksi menjelaskan bahwa sosialisasi ini bertujuan menumbuhkan pemahaman masyarakat mengenai penanggulangan bencana sejak dini.
Menurutnya, ilmu kebencanaan bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu sesama ketika musibah terjadi.
“Kami berharap apa yang diperoleh hari ini dapat menjadi bekal bagi masyarakat. Ketika terjadi bencana, warga tidak panik dan mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri maupun membantu orang lain,” ujarnya.
Ginuk menjelaskan, BPBD merupakan organisasi perangkat daerah yang bertugas membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat kabupaten.
Sementara di tingkat nasional terdapat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ia menerangkan bahwa bencana tidak hanya terbatas pada banjir atau tanah longsor. Bencana juga mencakup kejadian non alam maupun sosial yang menimbulkan kerugian besar serta mengganggu kehidupan masyarakat.
Sebagai daerah yang dilalui aliran Sungai Bengawan Solo, Bojonegoro memiliki potensi banjir yang hampir terjadi setiap tahun di sejumlah wilayah.
Selain itu, wilayah selatan juga memiliki ancaman tanah longsor, sementara kawasan industri migas berpotensi mengalami kejadian non alam seperti kebocoran gas yang pernah terjadi di beberapa desa.
“Suatu kejadian disebut bencana apabila dampaknya luas, menimbulkan kerugian besar, mengganggu aktivitas masyarakat, serta membutuhkan penanganan secara terpadu. Sedangkan kejadian yang skalanya kecil umumnya masih dikategorikan sebagai musibah,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai tiga tahapan utama dalam manajemen penanggulangan bencana.
Tahap pertama adalah pra bencana, yaitu melakukan mitigasi melalui edukasi, pencegahan, hingga pembangunan infrastruktur pengendali risiko seperti tanggul maupun pembentukan Desa Tangguh Bencana.
Tahap kedua adalah saat bencana, dengan prioritas utama menyelamatkan jiwa manusia, mengevakuasi korban ke lokasi aman, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta mengoordinasikan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan.
Sedangkan tahap ketiga adalah pasca bencana, yakni memulihkan kondisi masyarakat agar aktivitas dapat kembali berjalan normal melalui rehabilitasi dan rekonstruksi bersama perangkat daerah terkait.
Ginuk menegaskan bahwa bencana memang tidak dapat dicegah sepenuhnya, terutama bencana alam.
Namun, risiko dan dampaknya dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang baik.
Dia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat untuk segera melaporkan setiap kejadian kepada BPBD agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin.
“Silakan segera menghubungi BPBD apabila terjadi bencana. Tidak perlu menunggu administrasi selesai. Yang terpenting kami menerima informasi lebih dahulu agar bisa segera bergerak ke lokasi,” tegasnya.
Menurutnya, BPBD juga terus memberikan bantuan distribusi air bersih bagi masyarakat yang mengalami krisis air selama musim kemarau.
Namun bantuan tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, bukan untuk kebutuhan irigasi pertanian.
Selain itu, BPBD juga memiliki bantuan stimulan bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana seperti angin puting beliung maupun bencana lainnya, dengan besaran bantuan yang disesuaikan berdasarkan tingkat kerusakan.
Sementara itu, Komandan Satuan Setingkat Kompi (SSK) Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, Lettu Ckm Purnomo, mengatakan bahwa kegiatan non fisik seperti sosialisasi kebencanaan menjadi bagian penting dari pelaksanaan TMMD.
Menurutnya, pembangunan desa tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan jalan, rumah maupun fasilitas umum, tetapi juga melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat semakin mandiri, tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan.
“Kami berharap seluruh peserta mengikuti materi dengan sungguh-sungguh karena pengetahuan ini sangat penting. Semoga masyarakat Desa Kesongo semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana dan mampu menjadi pelopor keselamatan di lingkungannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kesongo, Kusnadi, menyampaikan apresiasi kepada BPBD Kabupaten Bojonegoro dan Satgas TMMD yang telah menghadirkan edukasi kebencanaan bagi warganya.
Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan mengingat Desa Kesongo memiliki potensi menghadapi berbagai ancaman bencana seperti kekeringan, angin puting beliung, hingga kebakaran saat musim kemarau.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BPBD Kabupaten Bojonegoro dan Satgas TMMD. Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Kesongo memperoleh pengetahuan baru tentang cara menghadapi bencana dengan benar sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan seluruh warga desa,” pungkasnya. (Er)







