Infotaiment

Ketum PWI Munir Ungkap Perjuangan Kuliah Hingga Jadi Tokoh Pers

aksesadim01
8883
×

Ketum PWI Munir Ungkap Perjuangan Kuliah Hingga Jadi Tokoh Pers

Sebarkan artikel ini
IMG 20260416 WA0043

SURABAYA – Gemerlap dunia jurnalistik nasional ternyata menyimpan kisah perjuangan panjang yang tak banyak diketahui publik.

Hal itulah yang terkuak dalam bedah buku biografi “Langkah Sunyi Menuju Puncak” yang mengisahkan perjalanan hidup Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir.

Kegiatan yang digelar di Dyandra Convention Center, Surabaya, Kamis (16/04/2026), menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) sekaligus HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari jurnalis senior, akademisi, hingga tokoh politik.

Diskusi berlangsung hangat sejak awal. Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, yang bertindak sebagai moderator, menegaskan bahwa kisah Munir bukan sekadar cerita sukses biasa.

Ia menyebut perjalanan tersebut sebagai bukti nyata bahwa wartawan dari daerah mampu menembus panggung nasional dengan kerja keras dan konsistensi.

“Ini bukan hanya soal karier, tapi tentang bagaimana seorang wartawan bisa berkembang menjadi kekuatan besar di dunia pers,” ujarnya.

Penulis buku, Abdul Hakim, menjelaskan bahwa biografi tersebut disusun melalui riset mendalam dan wawancara intensif.

Dia mengangkat sisi kehidupan Munir yang penuh keterbatasan sejak kecil.

Dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja sebagai penjahit, Munir harus berjuang keras meniti jalan hidupnya.

Dalam kesempatan itu, Akhmad Munir mengungkapkan bahwa seluruh pencapaiannya bukanlah hasil instan.

Dia memulai dari bawah, bahkan dari posisi sebagai pembantu kontributor LKBN Antara di Sumenep, Madura.

“Semua saya jalani pelan-pelan. Tidak ada yang instan. Itulah yang saya sebut sebagai langkah sunyi,” tuturnya.

Momen paling menyentuh muncul saat Munir mengenang masa kuliahnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.

Dirinya pernah berada di titik sulit ketika tak mampu membayar biaya kuliah pada semester akhir.

Situasi tersebut justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia mulai aktif menulis di berbagai media demi mendapatkan honor untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya ingin membahagiakan ibu saya. Semua keberhasilan ini tidak lepas dari doa beliau,” ucapnya dengan nada emosional.

Di hadapan para peserta, Munir juga membagikan tiga kunci utama kesuksesan dalam dunia jurnalistik, yakni ketekunan, integritas dan etika.

Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin bertahan dan berkembang di profesi wartawan.

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, Suko Widodo, memberikan pandangan kritis terkait kondisi generasi muda saat ini.

Dia menyebut minat mahasiswa untuk menjadi wartawan semakin menurun.

“Dari sekitar 150 mahasiswa, mungkin hanya lima yang benar-benar ingin jadi wartawan,” ungkapnya.

Meski demikian, ia optimistis buku ini mampu menjadi inspirasi baru.

Dia menekankan pentingnya membangun karakter, rajin membaca, serta aktif dalam organisasi sebagai bekal utama menjadi jurnalis yang berkualitas.

Pendapat senada disampaikan tokoh media Himawan. Dirinya menilai kekuatan terbesar Munir terletak pada kedekatannya dengan sang ibu, yang menjadi sumber energi spiritual dalam perjalanan hidupnya.

Menurutnya, buku “Langkah Sunyi” bukan hanya biografi, tetapi juga bisa menjadi pedoman moral bagi puluhan ribu anggota PWI di seluruh Indonesia agar tetap berpegang pada nilai-nilai luhur profesi.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan buku secara simbolis dari Akhmad Munir kepada Ketua PWI Malang Raya, Cahyono.

Momen tersebut menjadi simbol regenerasi sekaligus penegasan bahwa semangat jurnalistik akan terus hidup dan berkembang lintas generasi. (Er)