BOJONEGORO – Rangkaian ziarah leluhur dalam rangka memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349 berlanjut ke makam Adipati Haryo Matahun.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua TP PKK Cantika Wahono, didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), mengikuti prosesi doa dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh bersejarah yang memiliki kaitan dengan perjalanan Bojonegoro.
Setelah berziarah ke makam Buyut Dalem, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Makam Adipati Haryo Matahun. Suasana khidmat menyelimuti lokasi ketika Bupati dan rombongan yang mengenakan pakaian serba putih duduk bersama untuk memanjatkan doa.
Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga di makam, tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang jasa para leluhur sekaligus menjaga hubungan sejarah dengan perjalanan panjang Kabupaten Bojonegoro.
Juru Kunci Makam Adipati Haryo Matahun, Sugianto, menjelaskan bahwa Adipati Arya Matahun dikenal pula sebagai Pangeran Sasongko atau Raden Songko.
Menurut penuturannya, tokoh tersebut memiliki garis keturunan yang berkaitan dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, serta trah Raden Patah, Raja Demak.
Sugianto juga menceritakan kisah perjuangan Adipati Arya Matahun yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Madura dan Sampang di wilayah Badholeng, Sedayu, yang kini berada di Kabupaten Gresik.
“Adipati Arya Matahun gugur dalam pertempuran melawan pasukan Madura dan Sampang di wilayah Badholeng, Sedayu. Pertempuran tersebut dipicu oleh penolakan Cakraningrat dari Madura untuk menghadap Susuhunan Pakubuwono II di Kartasura,” jelas Sugianto.
Dalam kisah sejarah yang disampaikan juru kunci, Raden Adipati Arya Matahun bersama bala tentara Jipang dikerahkan untuk menghadapi pasukan Madura.
Namun, Cakraningrat mendapat dukungan dari putranya, Raden Tumenggung Secadiningrat, yang saat itu menjadi penguasa Sedayu.
Pertempuran sengit tersebut berakhir dengan gugurnya Raden Adipati Arya Matahun pada Sabtu Kliwon, 3 Ruwah tahun Jimakir, yang disebut berlangsung pada 1735 Masehi atau tahun Jawa 1666.
Setelah pertempuran, jenazahnya dibawa oleh sang putra, Raden Tumenggung Kramawijaya, untuk dimakamkan secara layak di Astana Mojoranu.
Ziarah leluhur menjadi bagian peringatan HJB ke-349
Selain berdoa dan menaburkan bunga, dalam kunjungan tersebut Bupati Setyo Wahono juga menyerahkan bingkisan kepada juru kunci makam dan imam tahlil sebagai bentuk perhatian kepada pihak yang turut menjaga tradisi ziarah.
Kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan tumpeng bersama dalam suasana akrab dan penuh kebersamaan.
Rangkaian ziarah leluhur dalam rangka HJB ke-349 selanjutnya diteruskan menuju Makam Kanjeng Soemantri di Kelurahan Mojokampung.
Melalui tradisi tahunan ini, penghormatan terhadap leluhur tidak hanya menjadi bagian dari seremoni peringatan hari jadi, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenali kembali tokoh-tokoh yang tercatat dalam sejarah Bojonegoro. (er)






