Daerah

Sandur Tampil di Modo Lamongan, Misi Besar Melestarikan Budaya Leluhur

×

Sandur Tampil di Modo Lamongan, Misi Besar Melestarikan Budaya Leluhur

Sebarkan artikel ini

LAMONGAN – Kesenian tradisional Sandur terus diperkenalkan dan dilestarikan di tengah perkembangan zaman.

Kali ini, pementasan Sandur Browo Budoyo di Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, menjadi bagian dari upaya inventarisasi dan revitalisasi budaya daerah agar berpeluang memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat nasional.

Pertunjukan yang digelar di halaman Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Pule, Senin (12/10/2026), tersebut disaksikan sekitar 300 warga.

Kegiatan ini melibatkan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Lamongan, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), serta Pemerintah Desa Pule.

Pementasan tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Acara diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari perwakilan Kecamatan Modo, UNESA dan Disbudporapar Lamongan, serta doa bersama sebelum memasuki pertunjukan utama.

Suasana semakin meriah saat kelompok seni Sandur Browo Budoyo dari Dusun Kalipang, Desa Pule, tampil di hadapan ratusan penonton.

Gerak tari, atraksi khas dan pesan yang dibawakan menjadi gambaran kekayaan budaya serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Antusiasme warga yang memenuhi lokasi menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

Sandur menjadi sarana memperkuat identitas daerah, membangun kebersamaan dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.

Danramil 0812/12 Modo Kapten Inf Mustoha menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia menegaskan, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, hingga masyarakat.

“Koramil 0812/12 Modo mendukung penuh kegiatan penguatan budaya seperti ini. Seni Sandur merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai historis dan karakter kuat. Menjaga kelestariannya bukan hanya tugas para seniman, melainkan tanggung jawab kita bersama agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan menjadi perekat persatuan bangsa,” ujarnya.

Mustoha juga menilai penggunaan fasilitas KDKMP Desa Pule sebagai lokasi pementasan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Selain mendukung kegiatan ekonomi desa, fasilitas tersebut dapat menjadi ruang berkumpul, berinteraksi, serta menyelenggarakan kegiatan seni dan budaya.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, pemerintah desa dan unsur masyarakat diharapkan dapat memperkuat langkah pendokumentasian serta pengenalan kesenian Sandur.

Upaya ini juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberadaan budaya khas Lamongan agar tetap berkembang dan dikenal lebih luas.

Melalui kegiatan tersebut, Sandur diharapkan tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga terus hidup sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat.

Dukungan berbagai pihak menjadi modal penting agar generasi muda turut mengenal, mencintai, dan meneruskan tradisi leluhur.

Kegiatan berlangsung hingga sore hari dalam suasana aman, tertib, dan lancar.

Upaya pelestarian ini sekaligus memperkuat pengenalan kekayaan budaya Lamongan sejalan dengan semangat mewujudkan Lamongan Megilan Berhasil.

Sejumlah pejabat dan unsur terkait turut hadir, di antaranya Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Lamongan Purnomo, S.Sn., M.Si., Koordinator Program Studi Seni dan Tari UNESA Dr. Wely Suryandoko, S.Pd., M.Pd., Danramil 0812/12 Modo Kapten Inf Mustoha, serta Kapolsek Modo AKP Witono Hariadi, S.H. Hadir pula unsur Forkopimcam, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa dan tokoh masyarakat. (fs)