Infotaiment

Pascabanjir di Aceh Tamiang, Warga Hadapi Krisis Air Bersih dan Masalah Kesehatan

aksesadim01
5268
×

Pascabanjir di Aceh Tamiang, Warga Hadapi Krisis Air Bersih dan Masalah Kesehatan

Sebarkan artikel ini
IMG 20251227 WA0011

ACEH TAMIANG – Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, kebutuhan warga tak hanya terbatas pada logistik makanan.

Air bersih kini menjadi bantuan paling mendesak yang ditunggu warga terdampak banjir, khususnya di Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Hingga beberapa hari setelah banjir surut, sebagian warga masih terpaksa menggunakan air sisa banjir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci pakaian, hingga membersihkan peralatan makan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan, terutama penyakit kulit.

Penggunaan air yang diduga tercemar mulai menimbulkan keluhan kesehatan.

Sejumlah warga mengaku mengalami gatal-gatal, iritasi kulit, hingga koreng, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

“Biasanya mandi pakai air bersih dari PAM, sekarang mau pakai air apa? Air sumur. Air sumur itu kan juga dari air banjir,” ujar salah satu warga dalam video yang diunggah akun Instagram @a.muhammadkurniawan.s, dikutip Sabtu (27/12/2025).

Ia menduga air yang digunakan telah terkontaminasi bakteri.
“Entah airnya kena apa, datang dari mana, mungkin bakteri nempel ke kulit,” tuturnya.

Keluhan serupa juga dialami anaknya. “Itu anak saya sudah korengan, gatal-gatal. Saya juga kena,” tambahnya.

Dalam rekaman video yang sama, terlihat warga mencuci peralatan makan menggunakan air berwarna coklat keruh, sisa genangan banjir.

Kondisi darurat memaksa warga bertahan dengan segala keterbatasan demi mencukupi kebutuhan dasar rumah tangga.

Krisis air bersih ini menambah penderitaan warga pascabencana, sekaligus meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit menular.

Sebelumnya, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2018–2021, dr. Daeng Mohammad Faqih, menegaskan bahwa air bersih dan obat-obatan merupakan kebutuhan utama dalam penanganan situasi darurat bencana.

“Ketersediaan air dan makanan itu sangat penting. Kalau tidak terpenuhi, bisa muncul komplikasi penyakit lain. Itu yang dikhawatirkan,” ujarnya, dikutip dari podcast Forum Keadilan TV, Sabtu (27/12/2025).

Dia juga menekankan bahwa penanganan medis pascabanjir membutuhkan dokter dengan spesialisasi tertentu.

“Lini pertama itu penyakit akibat banjir. Air bisa masuk ke paru-paru, ke saluran cerna, ke mata, ke kulit,” jelasnya.

Menurutnya, tenaga medis yang ideal diterjunkan meliputi dokter penyakit dalam, paru, mata, serta dokter spesialis kulit, guna mencegah dampak kesehatan yang lebih luas pada warga terdampak. (Red)