BOJONEGORO – Suasana berbeda terasa di Pendopo Malowopati, Pemkab Bojonegoro, saat refleksi satu tahun kepemimpinan Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah, Jumat (20/2/2026).
Mengusung tema “Merajut Kebersamaan Membangun Bojonegoro Bahagia, Makmur dan Membanggakan”, momentum ini ditegaskan bukan hanya seremoni tahunan atau laporan capaian semata.
Lebih dari itu, refleksi ini menjadi ruang evaluasi, koreksi, sekaligus pertanggungjawaban moral kepada masyarakat Bojonegoro.
Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menekankan bahwa satu tahun pertama kepemimpinannya bukanlah perjalanan yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang mustahil dijalani.
Menurutnya, tahun pertama adalah fase meletakkan arah pembangunan dan memperkuat pondasi birokrasi, terutama dalam dua hal utama yakni komunikasi dan mindset pelayanan.
“Kepemimpinan yang kuat bukan yang paling keras berbicara, tapi yang mau mendengar dan terus belajar mencari solusi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun komunikasi yang sehat antar jajaran pemerintahan, kepala desa, tokoh agama, hingga seluruh elemen masyarakat Bojonegoro.
Tanpa komunikasi yang baik, menurutnya, roda pemerintahan tidak akan berjalan maksimal.
Refleksi, lanjut Wahono, bukan hanya berbicara tentang capaian angka atau program, tetapi menjadi bahan evaluasi untuk melangkah lebih matang ke depan.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah memaparkan kondisi riil keuangan daerah yang menjadi tantangan besar ke depan.
Dia menegaskan bahwa postur APBD Kabupaten Bojonegoro tahun 2026 berada di angka Rp6,4 triliun, mengalami penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka di atas Rp8 triliun.
Penurunan tersebut dipengaruhi berkurangnya pendapatan dari sektor migas serta turunnya transfer dari pemerintah pusat.
Nurul Azizah juga menekankan bahwa ruang fiskal semakin terbatas, sehingga kebijakan ke depan harus semakin selektif dan tepat sasaran.
“Ketika orang menyebut APBD Bojonegoro Rp8 triliun, itu tidak sesuai kondisi saat ini. Realitasnya semakin menurun, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat,” jelasnya.
Refleksi satu tahun ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal angka, tetapi soal arah, komitmen, dan kolaborasi.
Di tengah tantangan fiskal dan dinamika ekonomi, kepemimpinan Wahono Nurul menegaskan komitmen untuk tetap menjaga stabilitas, memperkuat pelayanan publik, serta memastikan program menyentuh kebutuhan riil masyarakat Bojonegoro.
Suasana buka puasa bersama yang hangat di akhir acara menjadi simbol harapan, bahwa kebersamaan adalah fondasi utama untuk mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan.
Karena pada akhirnya, refleksi bukanlah akhir perjalanan melainkan awal dari langkah yang lebih terukur dan penuh tanggung jawab. (er)







