Infotaiment

Inovasi Baru di Bojonegoro, Sampah Organik Kini Tak Lagi Terbuang

aksesadim01
8828
×

Inovasi Baru di Bojonegoro, Sampah Organik Kini Tak Lagi Terbuang

Sebarkan artikel ini
IMG 20260411 WA0004

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus berinovasi dalam mengatasi persoalan sampah.

Melalui Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, dikembangkan teknologi sederhana bernama drum komposter yang mampu mengolah sampah organik langsung dari rumah tangga.

Inovasi ini dinilai efektif sebagai solusi praktis untuk menekan volume sampah yang selama ini menumpuk di TPA Bojonegoro.

Dengan memanfaatkan drum plastik bekas, masyarakat Bojonegoro kini bisa mengubah limbah dapur menjadi pupuk cair dan kompos padat yang bermanfaat.

Salah satu pengelola TPA Banjarsari, Yono, menjelaskan bahwa saat ini pembuatan drum komposter banyak diminati oleh sekolah sebagai sarana edukasi dan praktikum.

“Permintaan dari sekolah cukup tinggi. Ini jadi peluang untuk mengedukasi bahwa sebagian besar sampah rumah tangga, khususnya organik, sebenarnya bisa diselesaikan dari sumbernya,” ujarnya.

Data menunjukkan tren peningkatan volume sampah di Bojonegoro setiap tahun.

Berdasarkan data resmi Pemkab, pada 2025 jumlah sampah yang dikelola mencapai 47.380,36 ton per tahun, naik dari 45.997,80 ton pada 2024.

Melalui penggunaan drum komposter, masyarakat diajak mengubah pola pikir dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola dan memanfaatkannya.

Selain mengurangi bau dan penumpukan, metode ini juga mampu menghasilkan pupuk yang bisa digunakan untuk tanaman hias maupun sayuran di pekarangan.

Drum komposter dirancang sederhana. Wadah berupa drum plastik dimodifikasi dengan lubang aerasi untuk sirkulasi udara, serta dilengkapi keran di bagian bawah untuk memanen pupuk organik cair (POC).

“Untuk pupuk cair, tinggal buka keran di bawah. Sangat praktis,” tambah Yono.

Teknologi ini juga menjadi solusi ideal bagi masyarakat perkotaan atau kawasan padat penduduk yang memiliki keterbatasan lahan.

Selain itu, penggunaan drum komposter turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas metana dari timbunan sampah organik di TPA.

Jika diterapkan secara luas, dampaknya dinilai signifikan. Bahkan, satu lingkungan RT yang konsisten menggunakan metode ini bisa membantu mengurangi beban sampah secara drastis di TPA Banjarsari.

Saat ini, sosialisasi dan pendampingan masih difokuskan di lingkungan sekolah.

Namun masyarakat umum juga dapat belajar langsung cara merakit drum komposter dengan mengunjungi TPA Banjarsari.

Ke depan, Pemkab Bojonegoro berharap inovasi ini dapat menjadi gerakan kolektif masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.

Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, serta mendukung target nasional pengurangan sampah. (er)