Infotaiment

Imunisasi Rendah, Campak Kembali Mengancam di Bojonegoro

aksesadim01
8831
×

Imunisasi Rendah, Campak Kembali Mengancam di Bojonegoro

Sebarkan artikel ini
IMG 20260408 WA0025

BOJONEGORO – Penyakit campak tahun 2026 kembali menjadi sorotan di Bojonegoro.

Meski tergolong penyakit lama, penyebarannya di Bojonegoro yang masih terus terjadi menunjukkan bahwa campak belum sepenuhnya terkendali, terutama pada anak-anak.

Hal ini disampaikan dalam talkshow program SAPA! (Selamat Pagi) Bojonegoro yang disiarkan melalui Radio Malowopati FM, Rabu (8/4/2026).

Acara tersebut menghadirkan dr. Khairiyah Amalia, Sp.A dari RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro sebagai narasumber.

Dalam penjelasannya, dr. Khairiyah menegaskan bahwa campak merupakan penyakit akibat infeksi virus measles yang tidak boleh dianggap ringan.

Meski sering terlihat hanya sebagai ruam kulit biasa, penyakit ini bisa berkembang menjadi kondisi serius.

“Campak memang tampak sederhana, tapi berisiko menimbulkan komplikasi berat, bahkan hingga menyerang otak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, selain menyebabkan ruam pada kulit, campak juga menyerang saluran pernapasan dengan gejala batuk dan pilek.

Pada kondisi tertentu, infeksi ini dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan otak yang berpotensi menyebabkan kejang.

Kembali meningkatnya perhatian terhadap campak di tahun ini tidak lepas dari sejumlah faktor.

Salah satunya adalah masih rendahnya cakupan imunisasi anak, termasuk dampak dari tertundanya layanan imunisasi selama pandemi COVID-19.

Selain itu, kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin serta maraknya informasi hoaks turut memperburuk kondisi tersebut.

Di Kabupaten Bojonegoro, sejak Februari 2026 hingga awal April tercatat lima kasus campak pada anak.

Meski sebagian besar tergolong ringan dengan masa perawatan sekitar tiga hingga lima hari, potensi penularannya tetap tinggi.

“Penularan tidak hanya terjadi pada anak-anak, tapi juga bisa ke orang dewasa, terutama ibu yang sering berinteraksi dengan anak,” tambahnya.

Kelompok balita menjadi yang paling rentan karena sistem imun yang belum sepenuhnya kuat.

Gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius, bahkan bisa mencapai 40 derajat.

Kondisi ini disertai batuk dan pilek. Tanda khas lainnya adalah munculnya bercak Koplik di dalam mulut, yang sekilas menyerupai sariawan, sebelum akhirnya muncul ruam di kulit.

Menariknya, penularan campak sudah bisa terjadi sejak awal gejala muncul, bahkan sebelum penyakit terdeteksi secara jelas.

Satu penderita dapat menularkan virus kepada 10 hingga 15 orang melalui percikan batuk atau bersin.

Dokter Khairiyah juga menjelaskan perbedaan campak dengan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.

Pada campak, ruam muncul saat demam masih tinggi dan menyebar ke seluruh tubuh.

Sementara pada penyakit seperti roseola, ruam justru muncul setelah demam mereda.

Melalui kesempatan tersebut, masyarakat Bojonegoro dihimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak serta tidak ragu melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Imunisasi lengkap tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penularan.

Edukasi yang tepat dari tenaga kesehatan juga menjadi kunci penting agar masyarakat tidak terpengaruh informasi keliru terkait vaksin, sekaligus melindungi generasi anak dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. (er)