BOJONEGORO – Satu tahun perjalanan kepemimpinan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah menjadi momentum refleksi yang sarat makna.
Digelar dalam suasana buka bersama di Pendopo Malowopati, Pemkab Bojonegoro, Jum’at (20/2/2026), kegiatan ini tak sekedar seremoni, tetapi ruang evaluasi terbuka sekaligus penguatan sinergi.
Sejak sore, pendopo kebanggaan masyarakat Bojonegoro itu mulai dipenuhi awak media dan para kepala desa dari berbagai wilayah.
Suasana hangat terasa kental, menggambarkan hubungan yang tidak hanya administratif, tetapi juga emosional dalam membangun daerah.
Para peserta tak hanya hadir sebagai tamu, tetapi ikut terlibat dalam proses evaluasi perjalanan pembangunan selama satu tahun terakhir.
Momen doa bersama menjelang berbuka puasa menjadi simbol rasa syukur atas capaian yang telah diraih, sekaligus harapan agar pembangunan ke depan semakin terarah.
Kebersamaan dalam buka puasa mempererat komunikasi antara pemerintah daerah, media, dan pemerintah desa.
Dalam refleksi tersebut, sejumlah capaian pembangunan di Bojonegoro menjadi sorotan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dinilai mampu menjaga stabilitas pembangunan dengan arah yang semakin terukur.
Beberapa fokus utama yang mengemuka antara lain, pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah, perbaikan layanan publik yang lebih cepat, transparan, dan responsif.
Penguatan desa melalui pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kapasitas aparatur, akses jalan dan konektivitas menjadi prioritas guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, transformasi pelayanan publik terus didorong agar masyarakat merasakan kehadiran pemerintah secara nyata.
Sementara itu, sektor desa tetap menjadi tulang punggung pembangunan. Kemandirian desa diperkuat melalui tata kelola anggaran yang lebih efektif serta pengembangan potensi ekonomi lokal.
Dalam sambutannya, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal pencapaian angka, tetapi juga proses belajar yang berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa pemimpin harus mampu mendengar, memahami aspirasi masyarakat, dan terus beradaptasi dengan dinamika yang ada.
“Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mau mendengar dan terus belajar. Dari situ kita memahami kebutuhan masyarakat secara nyata,” tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan bahwa pembangunan daerah merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi serta keterlibatan semua pihak.
Keberhasilan, menurutnya, lahir dari kerja kolektif yang berkelanjutan.
Refleksi satu tahun kepemimpinan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, media, dan pemerintah desa menjadi fondasi penting dalam menjaga arah pembangunan tetap relevan dan tepat sasaran.
Momentum buka bersama di Pendopo Malowopati menjadi simbol bahwa pembangunan tidak hanya dibangun melalui kebijakan, tetapi juga melalui kebersamaan, komunikasi, dan kepercayaan.
Dengan gaya kepemimpinan yang adaptif, terbuka, dan kolaboratif, Bojonegoro diharapkan terus melangkah maju tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga semakin kuat dalam nilai gotong royong dan semangat kebersamaan. (er)







