Opini

Era Digital dan Ancaman Ukhuwah Islamiyah

aksesadim01
1590
×

Era Digital dan Ancaman Ukhuwah Islamiyah

Sebarkan artikel ini
IMG 20251123 WA0006

SURABAYA — Media sosial kini menjadi ruang komunikasi tercepat sekaligus paling luas dalam sejarah manusia. Informasi beredar hanya dalam hitungan detik mulai dari hal bermanfaat hingga konten provokatif yang memancing emosi dan merusak hubungan sesama. Hal tersebut disampaikan Ustadz Nafi’ Unnas dalam wawancara bersama awak media, Minggu (23/11/2025).

Menurutnya, fenomena seperti iri dengan postingan orang lain, cepat marah saat membaca komentar pedas, hingga kebiasaan scroll tanpa arah menjadi masalah nyata di era digital.

“Niatnya hanya cek notifikasi sebentar, tahu-tahu sudah satu jam scroll timeline. Waktu hilang, pekerjaan terbengkalai,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan 67,6 persen masyarakat Indonesia menggunakan internet terutama untuk media sosial (Kementerian Kominfo, 20 November 2025).

Secara bahasa, ukhuwah berarti persaudaraan, sementara Islamiyah berarti bernuansa keislaman. Artinya, Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Islam.

Ustadz Nafi mengutip pandangan Buya Hamka yang menegaskan bahwa hakikat ukhuwah terletak pada saling memahami, saling melengkapi, dan mudah memaafkan. Sementara Imam Al-Ghazali menyebut ukhuwah sebagai ikatan hati yang melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan pengorbanan.

Namun, realita di media sosial justru sebaliknya. “Perdebatan kecil di komentar bisa berubah menjadi permusuhan hanya dalam hitungan detik. Kadang bukan karena berbeda aqidah, tetapi hanya beda pendapat atau narasi,” terangnya.

Ia mengajak masyarakat berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, Sudahkah kita mempraktikkan ukhuwah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Atau justru semakin tenggelam dalam arus digital yang penuh ego dan emosi.

Ustadz Nafi menyampaikan tiga langkah praktis agar hubungan sesama muslim tetap terjaga, meski hidup di tengah derasnya arus informasi, Teliti sebelum membagikan informasi, Hindari ujaran kebencian, Jaga adab dalam tulisan.

Cari sumber ilmu agama dari ulama yang kredibel, Tidak mudah percaya cuplikan video yang belum tentu benar.

Tidak mudah tersulut emosi, klarifikasi sebelum menghakimi, prioritaskan pemahaman, bukan debat.

Meski penuh tantangan, media sosial bukan hanya sumber masalah. Jika digunakan dengan bijak, ia justru bisa mempererat silaturahmi dan memperluas dakwah.

“Kita harus menjadi Muslim yang melek teknologi dan beradab digital. Jadilah penyebar kedamaian, bukan pemicu perpecahan,” tegasnya.

Dia berharap generasi hari ini mampu menjadikan media sosial sebagai sarana memperkuat ukhuwah, bukan merusaknya.

“Kita hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyatukan umat,” pungkasnya. (Er)