NABIRE – Insiden penerbangan menegangkan terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Nabire, Papua Tengah, ketika pesawat perintis milik maskapai Smart Air terpaksa melakukan pendaratan darurat di perairan dangkal, Rabu (29/1/2026).
Berkat kesigapan pilot, kru, serta bantuan cepat warga dan petugas, seluruh penumpang dan awak pesawat berhasil diselamatkan.
Pesawat jenis Cessna 208B Grand Caravan tersebut tengah melayani rute Bandara Douw Aturure Nabire menuju Bandara Utarom Kaimana.
Tak lama setelah lepas landas dari Bandara Douw Aturure yang berada di Kelurahan Kalibobo, Distrik Nabire, kru pesawat mendeteksi adanya penurunan performa mesin secara signifikan.
Indikator mesin menunjukkan daya yang melemah disertai getaran tidak normal, membuat pilot menyadari penerbangan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
“Mesin tidak merespon secara normal dan daya turun drastis,” ujar seorang petugas Bandara Douw Aturure yang menerima laporan darurat dari pilot melalui radio komunikasi.
Situasi di dalam kabin pun berubah tegang. Penumpang yang sebelumnya menjalani penerbangan rutin antar wilayah Papua mulai diliputi kecemasan.
Namun di tengah kondisi kritis tersebut, pilot tetap bertindak tenang dan profesional.
Pilot segera berkoordinasi dengan Air Traffic Control (ATC) untuk kembali ke bandara asal.
Namun kondisi mesin yang terus menurun membuat pesawat tidak mampu mencapai landasan pacu.
Dalam keputusan cepat dan krusial, pilot memilih melakukan pendaratan darurat di perairan dangkal Pantai Kaladiri, tepat di kawasan pesisir ujung timur Bandara Douw Aturure yang berbatasan langsung dengan Teluk Cenderawasih.
Dengan kendali penuh, pesawat diturunkan secara bertahap hingga menyentuh permukaan laut.
Meski terjadi benturan saat mendarat, badan pesawat masih dalam kondisi stabil dan mengapung.
Air sempat masuk ke dalam kabin, namun kru pesawat segera membuka jalur evakuasi.
Seluruh penumpang diarahkan keluar secara tertib dan dievakuasi menuju daratan.
Warga sekitar Pantai Kaladiri yang melihat kejadian tersebut langsung bergerak membantu proses penyelamatan.
“Kami melihat pesawat turun ke laut dan langsung berenang membantu evakuasi. Yang penting semua selamat,” ujar Yohanes Wonda, salah satu warga setempat.
Tak lama berselang, petugas bandara, personel TNI-Polri, tim SAR Nabire, serta Basarnas tiba di lokasi dan mengambil alih proses evakuasi.
Seluruh penumpang dan awak pesawat berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Kepala Kantor SAR Nabire memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Seluruh penumpang dan kru selamat. Beberapa mengalami syok, namun tidak ditemukan luka berat,” jelasnya dalam keterangan resmi.
Suasana haru menyelimuti tepi pantai setelah evakuasi selesai.
Tangis syukur pecah dari para penumpang yang berhasil selamat dari situasi darurat tersebut.
Pihak Smart Air menyatakan bahwa insiden ini diduga akibat gangguan teknis pada mesin, meski pesawat telah menjalani perawatan rutin sesuai standar operasional.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan RI bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menurunkan tim investigasi ke Nabire untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh guna mengetahui penyebab pasti insiden dan mencegah kejadian serupa, khususnya pada penerbangan perintis di wilayah dengan tantangan geografis ekstrem seperti Papua.
Insiden ini kembali menjadi pengingat tingginya risiko penerbangan di wilayah timur Indonesia.
Namun keberanian pilot, kesiapan kru, serta respons cepat aparat dan masyarakat membuktikan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Pesawat memang gagal mencapai tujuan, namun seluruh penumpang berhasil kembali ke darat dengan selamat sebuah kisah tentang ketegangan, keberanian, dan harapan yang berakhir aman di antara darat dan laut. (Red)







