Infotaiment

Dari Desa Ngasem, Kelengkeng Premium Bojonegoro Tembus Pasar

aksesadim01
7888
×

Dari Desa Ngasem, Kelengkeng Premium Bojonegoro Tembus Pasar

Sebarkan artikel ini
IMG 20260202 WA0004

BOJONEGORO – Di balik rimbunnya dedaunan hijau yang meneduhkan, sebuah lahan seluas 3 hektare di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, menyimpan potensi ekonomi yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Ratusan pohon kelengkeng tumbuh subur, menjadi bukti bahwa pertanian berbasis ketelatenan dan pendekatan alami mampu menghasilkan cuan yang menggiurkan.

Sebanyak 600 pohon kelengkeng varietas Itoh dan New Kristal berdiri kokoh di lahan tersebut.

Berbeda dari kebun konvensional yang mengandalkan pupuk kimia, perkebunan ini memilih jalur semi organik dengan prinsip back to nature.

Sejak awal penanaman, kompos alami menjadi andalan utama untuk menjaga kesuburan tanah dan memperkuat perakaran tanaman.

Penggunaan pupuk kimia dilakukan sangat terbatas. Keputusan ini bukan tanpa risiko, namun justru berbuah manis.

Kelengkeng yang dihasilkan dikenal lebih sehat, berdaging tebal, serta memiliki cita rasa manis yang kuat kualitas yang membuatnya bernilai premium di pasaran.

Saat ditemui di lokasi kebun, Pujianto, pengelola perkebunan, mengungkapkan bahwa budidaya kelengkeng membutuhkan kesabaran ekstra.

Proses dari pembungaan hingga buah siap panen memakan waktu sekitar tujuh bulan, dengan panen raya yang hanya dilakukan satu kali dalam setahun.

“Kesabaran itu terbayar saat pohon-pohon mulai merunduk karena buahnya lebat,” tutur Pujianto.

Ia menyebutkan, hanya dari 64 pohon kategori besar, hasil panen bisa mencapai sekitar 2 ton kelengkeng dalam sekali musim.

Angka tersebut menjadi gambaran betapa besarnya potensi produksi jika seluruh pohon masuk usia produktif maksimal.

Dengan harga pasar stabil di kisaran Rp50.000 per kilogram, usaha kelengkeng ini tak lagi sekadar hobi bertani.

Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi unit bisnis hortikultura yang menjanjikan, dengan potensi perputaran ekonomi yang bisa mencapai ratusan juta rupiah setiap musim panen.

Keberhasilan kebun ini sekaligus memperkuat posisi Kecamatan Ngasem sebagai salah satu wilayah potensial pengembangan hortikultura di Bojonegoro.

Pujianto berharap, apa yang dirintisnya dapat menjadi inspirasi bagi petani lain untuk beralih ke budidaya buah-buahan bernilai tinggi dengan sistem ramah lingkungan.

“Varietas Itoh dan New Kristal punya pasar yang bagus. Kalau dikelola dengan benar, hasilnya sangat menjanjikan,” pungkasnya. (er)