Daerah

Bojonegoro Dibidik Jadi Lumbung Pangan Baru Lewat Gamagora 7

aksesadim01
7840
×

Bojonegoro Dibidik Jadi Lumbung Pangan Baru Lewat Gamagora 7

Sebarkan artikel ini
IMG 20260301 WA0011

BOJONEGORO – Inovasi pertanian kembali lahir dari kampus. Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan varietas padi Gamagora 7 sebagai jawaban atas tantangan produksi pangan di tengah perubahan iklim dan degradasi lahan.

Ekspos dan panen demplot digelar Sabtu (28/2/2026) mulai pukul 08.00 WIB di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.

Dalam paparannya, Wakil Dekan UGM Prof. Subejo menyebut rata-rata produktivitas padi nasional masih di kisaran 5,2 ton per hektare. Capaian 7 ton saja sudah tergolong tinggi.

“Kalau Bojonegoro konsisten 7 ton per hektare, itu sudah melampaui rata-rata nasional. Apalagi jika 10 sampai 11 ton bisa dicapai, ini berpotensi menjadi yang tertinggi secara produktivitas di Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, lumbung pangan nasional selama ini ditopang provinsi besar seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Di Jawa Timur sendiri, kabupaten seperti Lamongan dan Ngawi menjadi penyangga utama.

UGM berharap Bojonegoro mampu bersaing bahkan melampaui capaian tersebut.

Prof. Subejo menyoroti persoalan pangan kini makin kompleks.

Musim sulit diprediksi, kualitas tanah menurun akibat penggunaan bahan kimia berlebihan, serta ketersediaan air yang tak stabil antara musim hujan dan kemarau.

Dari problematika itulah Gamagora 7 lahir. Nama “Gamagora” merupakan akronim dari Gadjah Mada Gogo Rancah, mencerminkan karakter kuat pada kondisi lahan kering maupun basah.

“Air banyak atau sedikit bukan masalah. Bahkan saat tanah agak kering, performanya justru optimal. Di beberapa daerah seperti NTB, hasilnya sangat baik,” jelasnya.

UGM tak hanya memperkenalkan benih, tetapi juga satu paket teknologi pendukung.

Salah satunya penggunaan pupuk hayati dan agen biologis seperti basilles yang lebih ramah lingkungan.

Pendekatan ini membuat tanaman lebih tahan terhadap penyakit tanpa ketergantungan tinggi pada bahan kimia.

Hasilnya, tanaman lebih sehat, produktivitas meningkat, dan biaya produksi bisa ditekan.

Sebelum dilepas secara resmi oleh Menteri Pertanian, varietas ini telah diuji di 11–12 lokasi berbeda, mulai dari lahan basah, kering, asam, hingga wilayah luar Jawa seperti Mataram dan Kalimantan Selatan.

Uji adaptasi ini dilakukan untuk memastikan Gamagora 7 efektif di berbagai kondisi agroklimat.

Dengan dukungan pemerintah daerah dan kesiapan petani, Bojonegoro dinilai memiliki peluang besar menjadi model pengembangan Gamagora 7 di Indonesia.

Jika konsisten diterapkan, varietas ini tak hanya meningkatkan produktivitas hingga 10–11 ton per hektare, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan global.

Inovasi kampus bertemu komitmen daerah, Gamagora 7 kini menjadi harapan baru bagi lompatan produksi padi nasional.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, Ketua DPRD, Dandim 0813, Kapolres Bojonegoro, Sekda, Kepala DKPP, Kepala BPS, Camat Kepohbaru beserta Forkopimcam, kepala desa se-Kecamatan Kepohbaru, hingga kelompok tani dan gapoktan setempat. Hadir pula Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, SP, MSc, Ph.D. (er)