Infotaiment

Bojonegoro Bikin UNESCO Terkesan, Ini Lokasi yang Disorot

aksesadim01
9098
×

Bojonegoro Bikin UNESCO Terkesan, Ini Lokasi yang Disorot

Sebarkan artikel ini
IMG 20260119 WA0000

BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro kembali mencuri perhatian dunia internasional.

Vice President of UNESCO Global Geopark (UGGp), Prof. Ibrahim Komo, bersama tim ahli UGGp melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah situs geologi unggulan di Bojonegoro, Minggu (18/1/2026).

Pakar geologi asal Malaysia itu secara terbuka mengapresiasi kekayaan geologi serta keterlibatan masyarakat Bojonegoro dalam pengelolaannya.

Rangkaian kunjungan diawali di Agrowisata Belimbing, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Kawasan yang dulunya dikenal sebagai wilayah rawan banjir itu kini menjelma menjadi sentra ekonomi produktif berbasis pertanian dan pariwisata.

Prof. Ibrahim menilai keberhasilan warga setempat merupakan contoh nyata adaptasi manusia terhadap kondisi geologi dan lingkungan.

Hilirisasi produk belimbing dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi lokal Bojonegoro.

“Kawasan ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga laboratorium alam. Sangat ideal bagi pelajar dan peneliti untuk mempelajari ketahanan pangan berbasis lingkungan dan agro geology,” ungkap Prof. Ibrahim Komo.

Perjalanan dilanjutkan ke Museum 13 yang berada di kompleks SDN II Panjunan, Kecamatan Kalitidu.

Di lokasi ini, Prof. Ibrahim memberikan perhatian khusus pada aspek administrasi, dokumentasi, dan pengelolaan data sejarah.

Menurutnya, kekuatan utama sebuah geopark tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada legalitas administratif dan kelengkapan dokumentasi ilmiah yang terstruktur.

“Dokumen, arsip dan artefak yang dikelola dengan baik menjadi fondasi penting dalam pengakuan geopark di tingkat global,” tegasnya.

Keberadaan Museum 13 dinilai sebagai bukti keseriusan Bojonegoro dalam menjaga dan mengelola warisan geologi secara profesional.

Koleksi yang tersimpan memperkuat narasi sejarah geologi Bojonegoro sekaligus menopang posisi daerah ini dalam jejaring geopark dunia.

Tim UNESCO Global Geopark juga meninjau kawasan utara Bojonegoro, termasuk Antiklin Kawengan dan kawasan Texas Wonocolo.

Kedua lokasi tersebut menampilkan keunikan struktur geologi sekaligus sejarah panjang pertambangan minyak tradisional yang masih bertahan hingga kini.

Selain potensi geologi, Prof. Ibrahim turut menyoroti peluang pengembangan ekonomi masyarakat melalui kerajinan kayu jati.

Produk berbasis sumber daya hutan ini dinilai selaras dengan konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

“Kami melihat potensi besar dari kerajinan kayu jati yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekitar hutan,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada Sabtu (17/1/2026) malam, tim UGGp menyambangi kawasan wisata Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Fenomena api abadi yang muncul dari perut bumi memberikan pengalaman visual yang kuat sekaligus mempertegas keunikan geologi Bojonegoro di mata dunia internasional. (er)