Daerah

Astutik Kenalkan Ikon Baru Bojonegoro Lewat Motif Batik

aksesadim01
7176
×

Astutik Kenalkan Ikon Baru Bojonegoro Lewat Motif Batik

Sebarkan artikel ini
IMG 20251220 WA0029

BOJONEGORO – Di tangan Tri Astutik, selembar kain putih polos bisa berubah menjadi mahakarya penuh makna.

Dengan gerakan tenang namun pasti, jemarinya menari lincah menggoreskan canting, mengubah sketsa pensil menjadi pola bunga kekuningan yang elegan lewat balutan malam panas.

Tri Astutik bukan cuma pembatik biasa, ia adalah nakhoda di balik Kelompok Batik Sekar Rinambat asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo.

Sosok perempuan tangguh ini merupakan bukti nyata keberhasilan program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi oleh Pertamina EP Cepu (PEPC) dan ADEMOS sejak 2016 silam.

Saat ditemui dalam ajang Lomba Desain Motif Batik Bunga di Pendopo Malowopati, Kamis (18/12/2025) lalu, perempuan yang akrab disapa Tutik ini tengah memamerkan koleksi terbaru bertajuk Agni Amerta dan Sewu Sendang.

Kedua motif tersebut bukan sekedar pola estetika, melainkan narasi visual tentang kekayaan alam Bojonegoro.

Selain itu, koleksi Sekar Rinambat juga memiliki motif ikonik lainnya seperti Mliwis Putih (Simbol legenda lokal), Wonocolo (Terinspirasi dari eksotika tambang minyak tradisional), Waduk Pacal (Menggambarkan keindahan bendungan bersejarah).

Tutik memahami dinamika pasar dengan sangat baik, dia menyediakan berbagai pilihan untuk semua kalangan tanpa menurunkan standar kualitas.

“Batik cap masih menjadi primadona pasar karena harganya yang terjangkau, mulai dari Rp 70 ribu hingga Rp 250 ribu. Namun, bagi kolektor dan pecinta seni, kami menyediakan batik tulis ‘full motif’ yang harganya bisa menembus Rp 1 juta,” jelas anggota IWAPI Bojonegoro ini.

Menurut Tutik, rata-rata konsumen di Bojonegoro mencari kain batik dengan rentang harga menengah, yakni sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu per potong.

Bergabungnya Tutik ke dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Bojonegoro lima bulan lalu semakin memperluas jangkauan bisnisnya.

Baginya, setiap pameran adalah panggung untuk mengampanyekan gerakan bangga produk lokal.

Dirinyaa berharap batik khas Bojonegoro tidak hanya menjadi kain seragam, tetapi juga menjadi gaya hidup masyarakat luas.

Melalui goresan cantingnya, Tutik berkomitmen terus memperkenalkan keindahan Bumi Angling Dharma ke level nasional bahkan internasional. (er)