Infotaiment

Andre Yulius Disebut The New Mimik dan Prabowo nya Sidoarjo, Apa Faktanya

aksesadim01
8720
×

Andre Yulius Disebut The New Mimik dan Prabowo nya Sidoarjo, Apa Faktanya

Sebarkan artikel ini
IMG 20260221 WA0023

SIDOARJO – Peta pergerakan tokoh lokal di Kabupaten Sidoarjo kembali memanas.

Nama Dokter Andre Yulius mendadak jadi perbincangan luas, setelah disebut sebagai “The New Mimik versi pria” sekaligus “Prabowo Level Sidoarjo”.

Pernyataan tersebut dilontarkan langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Masyumi RI, Abdullah Amas.

Ia menilai apa yang selama ini dilakukan Andre Yulius memiliki kemiripan kuat dengan gerakan sosial yang identik dengan Mimik Idayana tokoh yang dikenal getol membela rakyat kecil dan konsisten memberdayakan masyarakat kurang mampu.

Menurut Amas, karakter keberpihakan itulah yang kini terlihat pada sosok dokter asal Sidoarjo tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk kota industri Sidoarjo, Andre Yulius memilih jalur yang tidak biasa.

Ia aktif turun langsung ke masyarakat, membuka layanan kesehatan gratis, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial lintas kelompok.

Beberapa poin yang menjadi sorotan, bergaul lintas sekat politik dan ormas, rutin menggelar layanan kesehatan gratis, aktif membantu warga kurang mampu secara langsung, konsisten bergerak meski tanpa jabatan politik.

Abdullah Amas bahkan menyebut Andre sebagai “aset zaman besar Sidoarjo” dan wujud doa para pahlawan daerah bagi masa depan kepemimpinan lokal.

“Dia memprioritaskan rakyat. Itu bukan sekadar slogan, tapi dibuktikan dengan tindakan,” tegas Amas.

Tak hanya disandingkan dengan Mimik, Andre juga dibandingkan dengan Presiden RI terpilih Prabowo Subianto.

Perbandingan ini muncul dari sisi mentalitas perjuangan. Seperti Prabowo yang beberapa kali kalah dalam kontestasi Pilpres sebelum akhirnya memenangkan pertarungan politik, Andre juga dikenal pernah gagal dalam kontestasi legislatif maupun pencalonan kepala daerah.

Namun yang menjadi pembeda, menurut Amas, adalah konsistensinya.

Alih-alih mundur dari panggung, Andre tetap aktif bergerak membantu masyarakat tanpa memikirkan untung-rugi politik.

Di tengah budaya pragmatis yang sering muncul dalam politik lokal, sikap ini dinilai sebagai anomali sekaligus kekuatan.

“Banyak yang hilang setelah kalah. Tapi Andre tetap turun ke rakyat,” ujar Amas.

Di balik aksi sosial yang terlihat besar, Andre dikenal memperhatikan detail kecil dalam setiap kegiatan.

Mulai dari memastikan kebutuhan konsumsi peserta terpenuhi hingga pengelolaan teknis acara.

Bagi sebagian orang, ini sekadar hal sepele. Namun bagi pendukungnya, itu menunjukkan empati dan manajemen kepemimpinan yang matang.

Pendekatan ini membuatnya semakin diterima lintas kelompok, baik di kalangan elite partai maupun masyarakat akar rumput.

Langkah “jor-joran” membantu masyarakat tentu bukan tanpa tantangan.

Dalam sistem politik yang masih didominasi kekuatan partai besar dan struktur formal, konsistensi gerakan sosial harus mampu dikonversi menjadi kekuatan politik riil.

Pertanyaannya kini adalah, apakah gelombang simpati sosial itu akan berubah menjadi dukungan elektoral.

Jika Andre mampu menjaga konsistensi dan momentum, ia bukan hanya akan dikenal sebagai “The New Mimik” atau “Prabowo nya Sidoarjo”, tetapi bisa menjadi standar baru kepemimpinan lokal, melayani tanpa harus menunggu jabatan.

Di tengah kebutuhan figur yang dekat dengan rakyat, narasi tentang Andre Yulius kini bukan sekedar isu viral melainkan mulai menjadi perbincangan serius di panggung politik Sidoarjo. (Red)