Infotaiment

Program MBG di Tuban Tuai Kritik, Orang Tua Desak Keterbukaan Biaya

aksesadim01
8995
×

Program MBG di Tuban Tuai Kritik, Orang Tua Desak Keterbukaan Biaya

Sebarkan artikel ini
IMG 20260223 WA0015

TUBAN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Bhayangkari Soko, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, menuai sorotan dari sejumlah wali murid.

Program yang digagas untuk menunjang pemenuhan gizi anak usia dini di Tuban ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kualitas menu yang diharapkan masyarakat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, paket MBG yang diterima siswa diketahui berasal dari dapur MBG yang berada di depan SMPN Sokosari, Kabupaten Tuban.

Dalam satu paket, siswa memperoleh satu kotak susu kemasan 125 ml bertuliskan “Susu Sekolah, Susu Gratis Program MBG”, satu potong roti tabur kelapa dalam plastik kemasan, serta satu buah jeruk.

Komposisi tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan orang tua.

Mereka menilai menu yang dibagikan masih tergolong sederhana dan belum sepenuhnya memenuhi unsur gizi seimbang sebagaimana konsep dasar program pemenuhan nutrisi anak sekolah.

Dalam pedoman gizi seimbang, satu porsi ideal umumnya mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, serta mineral yang proporsional.

Selain itu, aspek kebersihan, keamanan pangan, dan kelayakan konsumsi juga menjadi bagian penting dalam distribusi makanan bagi anak usia dini.

“Kalau memang anggarannya Rp15 ribu per anak, seharusnya bisa lebih variatif dan lengkap. Ini hanya susu kecil, roti, dan jeruk. Kami ingin ada penjelasan yang transparan,” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (23/2/2026).

Selain komposisi menu, kondisi buah yang dibagikan juga turut menjadi perhatian. Beberapa wali murid mengaku menemukan bercak kehitaman pada kulit jeruk yang diterima anak-anak mereka.

Meski belum dapat dipastikan apakah hal tersebut memengaruhi kualitas konsumsi, kekhawatiran tetap muncul di kalangan orang tua.

Di tengah beredarnya informasi mengenai anggaran sebesar Rp15 ribu per anak, sejumlah wali murid mempertanyakan kesesuaian antara nilai tersebut dengan menu yang diterima siswa.

Namun hingga kini, belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah angka Rp15 ribu tersebut merupakan nominal pasti yang diterapkan dalam program MBG di wilayah Soko.

Minimnya informasi detail terkait standar biaya per porsi, komponen pengadaan bahan, hingga mekanisme distribusi dari dapur MBG ke sekolah, semakin mendorong orang tua meminta keterbukaan.

Para wali murid menegaskan bahwa mereka mendukung penuh program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak.

Namun, mereka berharap pelaksanaan di lapangan benar-benar sejalan dengan tujuan awal program.

“Yang kami harapkan bukan sekadar gratis, tapi juga kualitas yang sesuai untuk tumbuh kembang anak. Kalau program ini baik, tentu kami dukung. Tapi harus jelas dan terbuka,” ungkap wali murid lainnya.

Transparansi dinilai menjadi kunci untuk menjaga akuntabilitas serta membangun kepercayaan publik terhadap program bantuan di sektor pendidikan dan kesehatan anak.

Hingga berita ini diterbitkan, pengelola dapur MBG yang berada di depan SMPN Sokosari maupun pihak TK Bhayangkari Soko, Kabupaten Tuban, belum memberikan pernyataan resmi terkait standar menu dan besaran riil anggaran per porsi.

Tim media masih terus melakukan upaya konfirmasi guna menghadirkan informasi yang utuh, berimbang, dan sesuai prinsip keterbukaan informasi publik. (er)