Peristiwa

Sebelum ke Pondok, NS Anak Asal Sukabumi Yang Meninggal Sempat Terima Rp50 Ribu dari Ayahnya

aksesadim01
8624
×

Sebelum ke Pondok, NS Anak Asal Sukabumi Yang Meninggal Sempat Terima Rp50 Ribu dari Ayahnya

Sebarkan artikel ini
IMG 20260221 WA0025

SUKABUMI – Duka mendalam menyelimuti keluarga seorang bocah berinisial NS (12), warga Desa Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Anak yang dikenal pendiam dan religius itu meninggal dunia di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi, pada Kamis, 19 Februari 2026, setelah diduga mengalami penganiayaan oleh ibu tirinya.

Kasus ini menjadi sorotan publik usai video dari rumah sakit Sukabumi itu beredar luas di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, korban yang terbaring lemah menyebut kata “Mamah” saat ditanya siapa yang menyakitinya.

Video itu memicu kemarahan dan simpati warganet.
Namun di balik kasus hukum yang kini bergulir, tersimpan kisah pilu tentang mimpi seorang anak yang tak sempat terwujud.

NS diketahui telah menjadi santri di sebuah pondok pesantren selama kurang lebih satu tahun terakhir. Ia baru saja memasuki jenjang SMP.

Ayah kandungnya, Anwar Satibi, tak kuasa menahan tangis saat mengenang cita-cita anaknya.

“Beda dari anak-anak lain. Dia ingin jadi kiai. Itu yang membuat saya sangat sakit,” ucap Anwar kepada awak media, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, sebelum kembali ke pondok, ia sempat memberikan uang saku sebesar Rp50 ribu kepada anaknya.

“Dia bilang Alhamdulillah untuk bekal di pesantren,” kenang Anwar.

Momen sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir yang membekas.

Terkait dugaan penganiayaan yang menyeret nama istrinya, Anwar menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan hingga tuntas.

“Kalau memang terbukti, selesaikan dengan hukum. Supaya ada efek jera. Negara kita negara hukum,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa setiap perbuatan harus dipertanggungjawabkan secara hukum dan tidak boleh ada tindakan semena-mena terhadap anak.

Fakta lain yang terungkap, Anwar mengaku sebelumnya pernah melaporkan istrinya atas dugaan penganiayaan terhadap NS.

Peristiwa itu terjadi sekitar satu tahun lalu, saat korban masih duduk di bangku kelas 6 SD.

“Saya pernah laporkan. Tapi istri saya datang memohon, sujud minta maaf, akhirnya saya beri kesempatan,” ujarnya.

Kala itu dibuat surat pernyataan serta rekaman video sebagai bentuk komitmen.

Namun laporan tersebut disebut belum sepenuhnya dicabut.

Untuk memastikan penyebab kematian, tim medis telah melakukan autopsi terhadap jenazah NS.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan adanya beberapa luka bakar di tubuh korban, serta pembengkakan pada organ jantung dan paru-paru.

Sampel organ telah dikirim ke Jakarta untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan.

Hingga kini, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil resmi.

Kasus ini terus didalami aparat penegak hukum, sementara publik berharap keadilan ditegakkan.

Di balik proses hukum yang berjalan, satu hal yang tak bisa dikembalikan adalah mimpi seorang bocah yang ingin tumbuh menjadi kiai. (dpw)