Infotaiment

Setahun Nahkodai Bojonegoro, Wahono Nurul Melaju dengan 5 Program Unggulan

aksesadim01
7792
×

Setahun Nahkodai Bojonegoro, Wahono Nurul Melaju dengan 5 Program Unggulan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260203 WA0008

BOJONEGORO – Menjelang genap satu tahun kepemimpinan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan keseriusannya dalam mempercepat pembangunan lintas sektor.

Tak sekedar membangun fisik, arah kebijakan difokuskan pada peningkatan kualitas hidup masyarakat secara nyata.

Mengusung visi Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan, duet kepemimpinan ini menetapkan lima fokus utama pembangunan daerah, yakni penurunan angka kemiskinan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penguatan ekonomi dan ketahanan pangan, pengurangan pengangguran, serta peningkatan konektivitas wilayah.

Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan, menegaskan seluruh kebijakan pembangunan dirancang berbasis kebutuhan dasar masyarakat dan peningkatan daya saing daerah.

“Pembangunan tidak hanya dilihat dari proyek fisik, tetapi bagaimana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya, Senin (2/2/2026).

Berikut rangkuman capaian satu tahun kepemimpinan Setyo Wahono–Nurul Azizah sejak 20 Februari 2025 hingga 20 Februari 2026.

1. Kemiskinan Turun, Intervensi Tepat Sasaran

Upaya penurunan kemiskinan menunjukkan tren positif. Data BPS Kabupaten Bojonegoro mencatat persentase penduduk miskin turun dari 11,69 persen atau 147.330 jiwa pada 2024 menjadi 11,49 persen atau 144.900 jiwa di tahun 2025.

Pemkab menargetkan pada 2026 angka kemiskinan dapat ditekan hingga 10,55 persen atau setara 133.046 jiwa.

Strategi yang ditempuh tidak hanya bantuan sosial, tetapi juga penguatan kemandirian ekonomi keluarga melalui integrasi data berbasis Data Damisda.

Sejumlah program inovatif digulirkan, mulai dari Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri), Kolam Lele Keluarga (Kolega), Domba Kesejahteraan, hingga Program Benih Gratis dan Drone Sprayer Pertanian.

Perlindungan sosial juga diperkuat melalui BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan, Program UHC, bantuan pangan bagi lansia sebatang kara, rehabilitasi RTLH, hingga penyediaan akses air bersih dan sanitasi.

2. IPM Terus Naik, Investasi SDM Diperkuat

Kualitas sumber daya manusia Bojonegoro terus mengalami peningkatan. IPM Bojonegoro tercatat naik dari 72,75 pada 2024 menjadi 73,74 di tahun 2025. Untuk 2026, Pemkab menargetkan IPM mencapai angka 74,21.

Salah satu pengungkit utama adalah sektor pendidikan. Anggaran beasiswa pendidikan pada 2025 mencapai Rp 35,3 miliar dan meningkat signifikan menjadi Rp 40,467 miliar di APBD 2026.

Berbagai skema beasiswa disiapkan, mulai dari Beasiswa Scientist, 10 Sarjana per Desa, Beasiswa Pondok Pesantren, Beasiswa Keluarga Miskin, hingga Beasiswa Tugas Akhir, dengan total ribuan penerima setiap semester.

Di sektor kesehatan, peningkatan layanan Puskesmas hingga RSUD terus digenjot.

Komitmen tersebut mengantarkan Pemkab Bojonegoro meraih penghargaan UHC Award Kategori Madya pada Januari 2026 sebagai bukti perluasan jaminan kesehatan bagi masyarakat.

3. Ekonomi Daerah Menguat, Pangan Kian Tangguh

Sebagai daerah agraris dan penghasil migas, penguatan ekonomi Bojonegoro diarahkan pada modernisasi pertanian dan pemberdayaan UMKM. Hasilnya mulai terlihat.

Nilai ekspor Bojonegoro naik dari 110,60 juta USD pada 2024 menjadi 116,81 juta USD di tahun 2025.

Jumlah pelaku UMKM pun meningkat sekitar 3 persen per tahun, dengan total 99.226 pelaku usaha pada 2025.

Di sektor pangan, Bojonegoro mencatat prestasi membanggakan. Produksi gabah pada 2025 melonjak 24,7 persen dibanding 2024, tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Produksi gabah kering giling mencapai 886 ribu ton, menjadikan Bojonegoro sebagai daerah dengan produksi padi terbesar kedua di Jawa Timur.

4. Pengangguran Menurun, Pelatihan Tepat Guna

Pemkab Bojonegoro juga serius menekan angka pengangguran melalui pelatihan vokasi dan peningkatan kerja sama dengan dunia industri.

Dari 5.407 peserta pelatihan kerja, sebanyak 3.030 orang telah terserap ke sektor formal dan informal.

Data BPS Jawa Timur mencatat tingkat pengangguran di Bojonegoro turun dari 4,42 persen pada 2024 menjadi 3,90 persen di tahun 2025.

Tren ini menandakan perbaikan nyata dalam penyerapan tenaga kerja lokal.

5. Infrastruktur Dikebut, Konektivitas Meningkat

Pembangunan infrastruktur tetap menjadi tulang punggung pemerataan pembangunan. Pada 2025, Pemkab Bojonegoro mengalokasikan Rp 651 miliar melalui skema Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD).

Sebanyak 27 ruas jalan kabupaten sepanjang 33 kilometer telah dituntaskan dengan konstruksi rigid beton.

Selain itu, rehabilitasi 56 ruas jalan sepanjang 83 kilometer serta perbaikan dan pemeliharaan 262 jembatan turut memperkuat konektivitas antarwilayah.

Langkah ini diyakini mampu menekan biaya logistik, memperlancar mobilitas warga, dan mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru hingga pelosok desa. (er)