Daerah

Drainase Baru Masalah Baru: Air PDAM di Bojonegoro Macet Total, Ini Penjelasan Direktur

orbitnasional333
8987
×

Drainase Baru Masalah Baru: Air PDAM di Bojonegoro Macet Total, Ini Penjelasan Direktur

Sebarkan artikel ini
1762333849780 copy 1280x940

BOJONEGORO – Proyek pembangunan drainase di wilayah Kecamatan Kota Bojonegoro kembali menuai keluhan. Pasalnya, sejumlah warga di beberapa ruas jalan utama mengaku sudah seminggu terakhir tidak mendapatkan pasokan air dari PDAM Tirta Buana.

Warga yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti Jalan Panglima Polim, Sawunggaling, WR. Supratman, Pemuda, hingga AKBP M. Suroko menjadi yang paling terdampak. Mereka kini harus mencari alternatif air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci, memasak, hingga mandi.

Salah satu warga, Siti, mengaku frustrasi karena aliran air PDAM di rumahnya sudah tidak mengalir sejak lebih dari tujuh hari.

“Sudah seminggu air PDAM mati total. Mau mencuci susah, masak pun harus beli air galon. Katanya karena proyek galian drainase, tapi sampai sekarang belum juga normal,” keluhnya, Rabu (5/11/2025).

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur PDAM Tirta Buana Bojonegoro, M. Khairul Anwar, membenarkan bahwa proyek drainase yang sedang berjalan memang berdampak pada terganggunya aliran air bersih di sejumlah titik kota.

Ia menjelaskan, pihaknya sebenarnya telah berkoordinasi dengan Dinas PU dan pihak kontraktor sejak awal pelaksanaan proyek U-Ditch.

“Program pembangunan saluran gorong-gorong atau U-Ditch ini memang sudah kami kawal sejak awal. Tim teknis PDAM mendampingi pelaksanaan di lapangan agar kalau ada pipa yang rusak bisa segera diperbaiki,” jelas Khairul.

Namun, diakui Khairul, kondisi di lapangan tidak selalu bisa dikendalikan. Banyak titik penggalian yang melibatkan alat berat atau excavator dengan mobilitas tinggi.

Dalam beberapa kasus, operator langsung menggali tanpa bisa menunggu proses pemetaan pipa selesai, sehingga pipa PDAM kerap terkena galian.

“Masalahnya lokasi pengerjaan banyak, operator kadang langsung kerja tanpa menunggu area dinyatakan aman. Padahal tim PDAM sudah mendampingi. Jadi kalau pipa kena, kami langsung upayakan perbaikan semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Khairul menjelaskan, perbaikan jaringan PDAM tidak bisa dilakukan sekaligus karena kondisi area yang masih tumpang tindih dengan pekerjaan proyek drainase. Tim teknis hanya bisa bekerja setelah area penggalian dinyatakan aman.

“Kami baru bisa memperbaiki kalau area sudah clear dari pekerjaan proyek. Kalau diperbaiki saat penggalian masih berjalan, nanti bisa rusak lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa banyak pipa yang posisinya berdekatan dengan akar pohon besar, sehingga saat akar digali, pipa di bawahnya ikut terdampak. Akibatnya, PDAM harus mengganti banyak pipa dengan jaringan baru.

“Di beberapa titik, pipa yang kena galian akar pohon harus diganti total. Ini butuh waktu dan tenaga, sementara tim teknik kami juga terbatas. Jadi perbaikan kami prioritaskan di titik-titik yang paling urgent agar pelayanan bisa cepat normal,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih warga yang terdampak, PDAM Tirta Buana telah menyiapkan pasokan air melalui mobil tangki. Namun, pengiriman air tangki sempat terhambat karena armada milik PDAM mengalami kerusakan.

“Beberapa hari ini kami kirim air pakai tangki, tapi tadi pagi tangkinya sempat rusak. Saat ini kami sedang koordinasi dengan BPBD agar bisa meminjam armada mereka untuk dropping air ke warga,” kata Khairul.

Dirinya menegaskan, PDAM akan terus berupaya mempercepat pemulihan aliran air bersih sambil tetap berkoordinasi dengan pihak pelaksana proyek drainase agar kejadian serupa tidak terus berulang.

“Kami memahami warga sangat terganggu. Kami mohon sabar sedikit, karena ini memang pekerjaan besar dan butuh penanganan bertahap. PDAM terus bekerja agar aliran air bisa segera normal kembali,” pungkasnya.

Meski pembangunan drainase di wilayah kota penting untuk mengurangi genangan air saat musim hujan, warga berharap agar proyek semacam ini tidak mengorbankan layanan publik yang krusial seperti air bersih.

Koordinasi lintas instansi antara PDAM, Dinas PU, dan kontraktor diharapkan bisa diperkuat, agar setiap pekerjaan penggalian tidak merusak infrastruktur utilitas yang sudah ada di bawah tanah. (Er)